Ada rasa bergetar di hati ketika saya mengetik sebuah surat berjudul Letter of Resignation. Rasa lega, sedih, khawatir, tidak percaya, ragu dan emosi lainnya bercampur menjadi satu. Sore ini saya memilih pulang naik angkutan umum daripada memesan ojek online seperti biasanya. Melelahkan memang duduk di dalam angkutan yang terjebak dalam antrian kemacetan. Juga mengesalkan, apalagi asap rokok si supir harus saya hirup di tengah udara pengap di dalam angkutan. Tapi mungkin kemacetan itu yang kelak akan saya rindukan. Mungkin pemandangan sapanjang Jalan Akses UI itu yang juga kelak akan saya rindukan. Dan sore ini saya memilih untuk menikmatinya. Bahkan tanpa menyumbat telinga dengan musik melalui earphone. Saya betul-betul memandangi apa yang saya lihat di sekitar saya sepanjang perjalanan pulang.
"Ada indah di setiap pindah." begitu kata Pidibaiq. Hal sama yang juga saya harapkan. Sebuah hal baik yang saya temukan di tempat baru. Sebuah hal baru yang saya temukan di tempat yang (semoga lebih) baik. Karena yang saya tinggalkan bukan karena tidak baik. Bukan juga kurang baik. Terlalu baik juga tidak, karena katanya yang terlalu itu tidak baik meskipun diikuti dengan kata baik di belakangnya. Halah pusing ya.
"Hidup penuh dengan ketidakpastian, tapi perpindahan adalah satu hal yang pasti. Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Padahal untuk melakukan pencapaian lebih kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan." Yang ini menurut Raditya Dika.
Bukankah setiap orang pasti ingin terus maju? Bagaimana saya bisa maju kalau saya hanya diam di tempat, terbuai kenyamanan yang tidak menjanjikan perkembangan apa-apa. Jadi, nyaman tidak selamanya baik tapi bukan berarti yang membuat nyaman tidak baik.

No comments:
Post a Comment