Tuesday, October 25, 2016

Berkah


Sudah hampir lima tahun saya bekerja setelah lulus kuliah, tapi masih suka kurang percaya diri menghargai kemampuan saya di depan perusahaan. Kadang karena takut tidak perform, kadang karena memang 'hah iyaya gue bisa semahal itu?'.

Pengalaman terakhir saya nego gaji sempat membuat kepala saya bising sekali dengan pikiran ini itu. Angka yang ditawarkan sebenarnya belum menyentuh ekspektasi saya. Tapi kembali lagi, saya kurang percaya diri untuk menghargai lebih kemampuan saya. Pada saat itu saya memilih menandatangani kontrak kerja tanpa menawar untuk menaikkan angka. Sempat menyesal kenapa saya pasrah. Pada saat pimpinan HRD menawarkan saya untuk bertanya , pertanyaan yang saya lontarkan adalah "Kedepan apakah akan ada penyesuaian salary?"

Jawabannya tidak. Dan penyesalan yang saya rasakan semakin menjalar, sebelumnya di kepala lalu mulai menutup dinding hati saya. Saya mulai menyalahkan diri saya. Saya mulai mengutuk kenapa saya gegabah sekali pasrah dan mengiyakan. Kemudian pikiran saya lainnya berusaha menenangkan "Tapi kalaupun tadi menawar untuk dinaikkan, lalu saya ternyata ngga perform gimana?"

Haahhh. Entahlah.

Bahkan sepekan setelah tandatangan kontrak itu saya gelisah sekali. Apakah yang saya putuskan sudah tepat? Apakah nanti saya akan kesulitan dengan keputusan yang saya buat sendiri? Saya jadi sering melamun.

Saya bertemu teman saya, kami sharing sedikit. Menurutnya, perusahaan baru saya tentu senang bukan main, yang saya terima masih dibawah rata-rata tapi bisa dapat pekerja yang sudah pengalaman di bidangnya. Harusnya saya minta nilai lebih, karena pengalaman dan kemampuan saya harus dihargai. Dari situ, intensitas melamun saya semakin tinggi. Saya bahkan sering tidak mendengar teman saya yang mengajak bicara. Tidak sadar sedang diajak bicara lebih tepatnya. Saya kembali mengutuk diri saya. Betapa gegabahnya saya.

Lalu dengan segala kelapangan hati, saya mulai meyakinkan diri saya. Yang saya terima sudah amanah dari Tuhan sebesar itu. Yang terjadi sudah kehendak Tuhan. Tidak perlu saya sesali. Kalaupun seharusnya saya bisa dapat lebih tapi saya melewatkan kesempatan itu, saya yakin Tuhan tidak akan kehabisan cara untuk memberikan yang seharusnya saya terima. Saya yakin akan ada skenario hebat dari Tuhan meskipun pimpinan HRD sudah mewanti-wanti tidak ada penyesuaian salary ke depannya. Saya yakin akan ada rizki lain dari jalan yang tidak saya sangka.

Karena..
Bukan seberapa banyak nilainya, tapi seberapa banyak kita mensyukurinya. Bukan seberapa besar jumlahnya, tapi seberapa terasa berkahnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dekati Tuhanmu, Dia lah yang memberimu segalanya.

No comments:

Post a Comment