Monday, February 17, 2014

Suratku




Dear kamu..

Surat ini aku tulis saat airmataku sudah mengering. Aku tak ingin menyusun kata saat nafas sesak karena bibir bergetar menahan airmata jatuh. Aku takut yang tersusun hanya kata penuh emosi yang menggambarkan luka. Aku hanya ingin saat membacanya kembali yang kurasa hanyalah perasaan penuh cinta, bukan lagi luka.

Sayangku..
Hanya kamu satu-satunya lelaki yang mampu membuat hatiku hancur seperti ini, tapi ini semua bukan salahmu. Siapa yang mau, memaksa bersama ketika tidak ada lagi cinta? Aku bisa merasakan menjadi kamu, meski kamu hanya sekedar tau bahwa betapa beratnya menjadi aku. Aku sungguh tak menyalahkanmu.

Sayangku..
Ini kehancuran hatiku yang kedua. Yang pertawa di awal 2009, ketika kamu mengakui bahwa kamu lebih merasa nyaman bermanja mesra dengan perempuan lain yang sering menemani kamu lewat sambungan telepon. Saat itu aku merasa turut berperan dalam kesalahan yang kamu lakukan. Mungkin karena aku yang terlalu membuat kamu tertekan sehingga kamu menemukan tempat lain yang membuat kamu lebih nyaman.

Sayangku..
Aku tak pernah melupakan bagaimana kamu menunggu tulang dari ayam goreng yang kumakan. Bagaimana kamu canggung dan malu karena wajahmu penuh bedak saat aku menjengukmu ketika kamu terkena cacar air. Bagaimana susunan katamu yang menunjukkan kamu takut kalau aku memberi respon yang buruk saat memberi kabar kamu divonis herpes oleh dokter. Bagaimana kamu sebal tiapkali aku meremas lipatan perutmu karena merasa aku ejek.

Sayangku..
Aku tak pernah merasa semua itu adalah hal yang seharusnya membuatmu malu. Aku menyenangi kesukaanmu yang senang makan tulang ayam milikku. Aku tidak merasa aneh melihat wajahmu yang menurutmu seperti monster saat sedang kena cacar air, "ngga kaya monster, emang cacar kan begitu" jawabku saat itu. Aku tidak gelisah dan terus menenangkanmu saat kamu melanjutkan kabar dari dokter tentang kulitmu, karena aku tau itu bukan herpes yang mengerikan dan bisa sembuh saat virusnya hilang. Dan aku tetap memelukmu gemas dan semakin erat dari jok belakang meski kamu berpikir aku mengejek lipatan perutmu.

Sayangku..
Rasanya ingin sekali berteriak bahwa tidak ada lagi kamu yang menanyakan kabarku, tapi kubungkam mulutku kuat-kuat. Tapi aku tak sekuat itu. Tangisku pecah ketika aku menyadarkan ingatanku bahwa kamu kini milik wanita lain. Aku menangis saat duduk di bangku tunggu peron jalur dua sambil menunggu kereta yang mengantarku ke stasiun yang kutuju. Aku memang cengeng, sudah besar masih menangis. Payahnya aku ini!

Sayangku..
Tapi Tuhan memberitahuku bahwa aku masih bisa merasa dekat denganmu; lewat doa dengan merapal namamu. Aku tau mungkin kamu merasa tidak nyaman dengan rasa yang masih aku simpan. Aku sendiri belum tau bagaimana menyudahi rasa ini, padahal aku tidak pernah dengan sengaja membuatnya semakin tumbuh. Aku justru mengabaikannya. Tapi entah, rasa itu tak pernah mau pergi.

Sayangku..
Aku mencintaimu dengan segala kekuranganku, dengan segala kelemahanku, tapi yang pasti cintaku tulus dan Tuhan tau itu. Karena hanya Dia yang tau persis tentang bagaimana segumpal rasa yang tidak pernah hilang dari hatiku.

-16 Februari 2014, 09:48 PM


No comments:

Post a Comment