Dear kamu..
Surat ini aku tulis
saat airmataku sudah mengering. Aku tak ingin menyusun kata saat nafas sesak
karena bibir bergetar menahan airmata jatuh. Aku takut yang tersusun hanya kata
penuh emosi yang menggambarkan luka. Aku hanya ingin saat membacanya kembali
yang kurasa hanyalah perasaan penuh cinta, bukan lagi luka.
Sayangku..
Hanya kamu
satu-satunya lelaki yang mampu membuat hatiku hancur seperti ini, tapi ini
semua bukan salahmu. Siapa yang mau, memaksa bersama ketika tidak ada lagi
cinta? Aku bisa merasakan menjadi kamu, meski kamu hanya sekedar tau bahwa
betapa beratnya menjadi aku. Aku sungguh tak menyalahkanmu.
Sayangku..
Ini kehancuran hatiku
yang kedua. Yang pertawa di awal 2009, ketika kamu mengakui bahwa kamu lebih
merasa nyaman bermanja mesra dengan perempuan lain yang sering menemani kamu
lewat sambungan telepon. Saat itu aku merasa turut berperan dalam kesalahan yang
kamu lakukan. Mungkin karena aku yang terlalu membuat kamu tertekan sehingga
kamu menemukan tempat lain yang membuat kamu lebih nyaman.
Sayangku..
Aku tak pernah
melupakan bagaimana kamu menunggu tulang dari ayam goreng yang kumakan.
Bagaimana kamu canggung dan malu karena wajahmu penuh bedak saat aku
menjengukmu ketika kamu terkena cacar air. Bagaimana susunan katamu yang
menunjukkan kamu takut kalau aku memberi respon yang buruk saat memberi kabar
kamu divonis herpes oleh dokter. Bagaimana kamu sebal tiapkali aku meremas
lipatan perutmu karena merasa aku ejek.
Sayangku..
Aku tak pernah merasa
semua itu adalah hal yang seharusnya membuatmu malu. Aku menyenangi kesukaanmu
yang senang makan tulang ayam milikku. Aku tidak merasa aneh melihat wajahmu
yang menurutmu seperti monster saat sedang kena cacar air, "ngga
kaya monster, emang cacar kan begitu" jawabku saat itu. Aku tidak
gelisah dan terus menenangkanmu saat kamu melanjutkan kabar dari dokter tentang
kulitmu, karena aku tau itu bukan herpes yang mengerikan dan bisa sembuh saat
virusnya hilang. Dan aku tetap memelukmu gemas dan semakin erat dari jok
belakang meski kamu berpikir aku mengejek lipatan perutmu.
Sayangku..
Rasanya ingin sekali
berteriak bahwa tidak ada lagi kamu yang menanyakan kabarku, tapi kubungkam
mulutku kuat-kuat. Tapi aku tak sekuat itu. Tangisku pecah ketika aku
menyadarkan ingatanku bahwa kamu kini milik wanita lain. Aku menangis saat
duduk di bangku tunggu peron jalur dua sambil menunggu kereta yang mengantarku
ke stasiun yang kutuju. Aku memang cengeng, sudah besar masih menangis.
Payahnya aku ini!
Sayangku..
Tapi Tuhan
memberitahuku bahwa aku masih bisa merasa dekat denganmu; lewat doa dengan
merapal namamu. Aku tau mungkin kamu merasa tidak nyaman dengan rasa yang masih
aku simpan. Aku sendiri belum tau bagaimana menyudahi rasa ini, padahal aku tidak
pernah dengan sengaja membuatnya semakin tumbuh. Aku justru mengabaikannya.
Tapi entah, rasa itu tak pernah mau pergi.
Sayangku..
Aku mencintaimu
dengan segala kekuranganku, dengan segala kelemahanku, tapi yang pasti cintaku
tulus dan Tuhan tau itu. Karena hanya Dia yang tau persis tentang bagaimana
segumpal rasa yang tidak pernah hilang dari hatiku.
-16 Februari 2014,
09:48 PM
No comments:
Post a Comment