Friday, November 22, 2013

Memperbaiki Diri


Siapa sih yang tidak ingin dijodohkan dengan lelaki yang kaya, baik, pekerja keras, agamanya bagus, pintar mengaji, rajin puasa, tidak putus menjalankan Dhuha dan hal baik lainnya. Wanita mana yang tidak ingin diimami oleh sosok seperti itu? Saya pun ingin. Tapi saya merasa malu ketika meminta pada Tuhan sosok seperti itu. Apakah saya ini pantas? Saya banyak mendengar tentang hal baik bernama memperbaiki diri. Katanya, memperbaiki diri juga memperbaiki jodoh. Karena laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan begitu pula sebaliknya (QS 24:26).

Boleh dibilang saya ini sedang memperbaiki diri, yang entah kenapa ada sosok kamu di masa depan untuk jadi seseorang yang ingin saya perlihatkan hasilnya nanti. Tapi betapa tidak adilnya kalau sekarang mungkin kamu justru sedang berkenalan disana-sini, dekat dengan perempuan, pergi jalan, dan entah hal lain yang sudah pasti tidak saya ketahui.

Entah kenapa sosok kamu yang saya minta pada Tuhan. Padahal mungkin Tuhan ingin sekali menyiapkan seseorang lain yang lebih baik. Tapi selalu kamu yang saya sebut dalam doa.

Entah kenapa seperti itu.

Ah tidak apa, saya memperbaiki diri karena saya mengharapkan kebaikan yang diberikan Tuhan nantinya. Katanya, Tuhan selalu mendukung dan menemani orang-orang yang berbuat baik. Semoga yang saya lakukan ini diridhai Tuhan.

Diorama Kecewaku


Harusnya saya menghadirkan model tiga dimensi yang menejermahkan sebuah perasaan bernama kecewa. Tapi saya bukan seorang seniman yang bisa menghasilkan karya itu. Maka saya hanya bisa menggambarkan sebuah adegan perasaan melalui kata. Kemudian bergantung pada imajinasi yang dibangun sang pembaca.

Maaf kalau postingan saya sebelumnya terlalu sering mengumbar bagaimana saya kecewa. Perasaan itu terlalu bergumul di kepala sampai saya merasa tidak enak kalau belum tumpah ruah. Seorang bijak pernah berkata bahwa berbicara lewat kata lebih baik ketimbang berteriak di jalan raya. Tentu saja akal saya masih ada untuk berpikir bahwa berteriak di jalan raya bukanlah hal yang normal, karna saya bisa diteriaki gila.

Sudah cukup sebelumnya saya terlalu mengumbar bagaimana perasaan saya kepada kamu. Menumpahkan segalanya, membuat becek dimana-mana sampai saya sendiri yang terpeleset karna genangan perasaan yang saya tumpahkan itu. Mungkin saja kamu yang saya pikirkan justru malah sedang memikirkan bagaimana mengajak seseorang lain untuk jalan bersama. Kontras sekali. Jadi mungkin lebih baik saya menumpahkan perasaan ini melalui doa. Karena ada Yang Maha Mendengar segala yang dikeluhkan umatNya. Seperti anjuran ulama yang pernah saya dengar;

"Jangan pernah mengaku mencintai seseorang sebelum anda mendoakan ampunan dan keselamatan dunia akhirat untuknya"

Perlahan saya mulai mengerti bagaimana cara mencintai dengan tulus di jalan yang benar. Betapa menguntai doa untuk seseorang yang dicinta adalah bentuk cinta yang paling indah. Kalaupun Tuhan tidak menakdirkan saya dengan seseorang yang saya cinta itu, sudah pasti sekali selama saya memelihara cinta selalu dilalui dengan hal baik yaitu doa.

Bukankah kecewa juga bentuk perasaan yang diberikan Tuhan? Mungkin ada yang harus saya tebus dalam melewati perasaan ini. Mungkin Tuhan ingin saya menjadi orang yang lebih baik, tenang dan ikhlas. Ah.. Andai saja blog ini punya telinga, mungkin ia sudah menutup telinganya karena saya terlalu banyak bicara.


Monday, November 11, 2013

Pembunuh Luka


Tentang pembunuh luka. Sejatinya ada dalam setiap hati kita. Kedamaian itu akan datang seketika saat kita menyebut Tuhan. Ya. Tuhan akan datang bahkan saat kamu baru saja berkata;
'Ya Tuhanku..'
Percayalah, seketika.