Kukira
kau tengah mencari, lalu kita saling menemukan. Kukira kau sedang sendiri, lalu
dalam segala hal kita bisa jadi teman. Kukira kau memang sendiri, ternyata kau
adalah penghibur dari orang-yang-telah-berdua-tapi-bosan-namun-ia-tak-ingin-sendirian.
Kau
penghibur, yang juga butuh hiburan. Kau sendiri, tapi tak sendirian. Berdua,
tapi tak menjalin hubungan. Harusnya tak kau langkahkan kakimu di atas kawan
yang sukarela jadi jembatan. Harusnya kau tak mengaku butuh pasangan, kalau kau
saja tak bisa keluar dari ruang nyaman kalian. Harusnya, dari awal kau tak
perlu memaksakan.
Kau
orang yang kukenal baik, tapi tiang-tiang kebaikan itu kau sendiri yang
robohkan. Karna sungguh, setelah Tuhan memperlihatkan, kini membuat hatiku
menahan umpatan.
Kukira
kau bisa jadi rumah, ternyata kau hanya berusaha ramah. Untukmu, yang setiap
kata yang kau rangkai dalam pesan hanyalah aksara murahan. Maaf, kukira barang
sekali aku perlu menumpahkan begini, agar geram ini bisa pergi jadi debu
kemudian menyatu bersama molekul udara yang keruh. Tak ada yang perlu disentuh
dari udara keruh. Logikaku tetap bisa jalan, bahwa tidak ada hal yang kau
langgar sebagai orang yang masih sendirian. Kau mungkin berhasil memainkan
peran, tapi untuk apa aku jadi tokoh pendamping dari tokoh utama perempuan yang
kau pertahankan. Aku memang harus turun dari panggung pertunjukan, tempatku bukan di situ.
Nikmati saja panggung kalian sebagai sandiwara paling rahasia. Kuberikan tepuk
tangan, dari bangku penonton paling depan.
Kudoakan
waktumu bersamanya bukanlah hal yang sia-sia meski kebersamaan kalian bukan hal
yang bisa dibagikan pada banyak orang. Teruskanlah menyelam, dalam senda gurau
yang kau pikir menyenangkan. Semoga kau tidak mati tenggelam, agar kelak kau bisa merasakan bahwa menjalin kisah kasih yang baik dan sehat jauh lebih membahagiakan.

No comments:
Post a Comment