Monday, October 28, 2019

Pesanmu, adalah aksara paling murahan!


Kukira kau tengah mencari, lalu kita saling menemukan. Kukira kau sedang sendiri, lalu dalam segala hal kita bisa jadi teman. Kukira kau memang sendiri, ternyata kau adalah penghibur dari orang-yang-telah-berdua-tapi-bosan-namun-ia-tak-ingin-sendirian.

Kau penghibur, yang juga butuh hiburan. Kau sendiri, tapi tak sendirian. Berdua, tapi tak menjalin hubungan. Harusnya tak kau langkahkan kakimu di atas kawan yang sukarela jadi jembatan. Harusnya kau tak mengaku butuh pasangan, kalau kau saja tak bisa keluar dari ruang nyaman kalian. Harusnya, dari awal kau tak perlu memaksakan.

Kau orang yang kukenal baik, tapi tiang-tiang kebaikan itu kau sendiri yang robohkan. Karna sungguh, setelah Tuhan memperlihatkan, kini membuat hatiku menahan umpatan.

Kukira kau bisa jadi rumah, ternyata kau hanya berusaha ramah. Untukmu, yang setiap kata yang kau rangkai dalam pesan hanyalah aksara murahan. Maaf, kukira barang sekali aku perlu menumpahkan begini, agar geram ini bisa pergi jadi debu kemudian menyatu bersama molekul udara yang keruh. Tak ada yang perlu disentuh dari udara keruh. Logikaku tetap bisa jalan, bahwa tidak ada hal yang kau langgar sebagai orang yang masih sendirian. Kau mungkin berhasil memainkan peran, tapi untuk apa aku jadi tokoh pendamping dari tokoh utama perempuan yang kau pertahankan. Aku memang harus turun dari panggung pertunjukan, tempatku bukan di situ. Nikmati saja panggung kalian sebagai sandiwara paling rahasia. Kuberikan tepuk tangan, dari bangku penonton paling depan.

Kudoakan waktumu bersamanya bukanlah hal yang sia-sia meski kebersamaan kalian bukan hal yang bisa dibagikan pada banyak orang. Teruskanlah menyelam, dalam senda gurau yang kau pikir menyenangkan. Semoga kau tidak mati tenggelam, agar kelak kau bisa merasakan bahwa menjalin kisah kasih yang baik dan sehat jauh lebih membahagiakan.

No comments:

Post a Comment