Dua orang teman yang menunjukkan dirinya menerima kondisi saya, telah cukup membuat saya melupakan keinginan untuk memutus siklus episode dengan bunuh diri. Karena,
Saya hanya akan membunuh perasaan "berarti" dalam diri teman saya kalau saya menghilangkan nyawa saya. Teman saya pasti merasa hidupnya berarti ketika saya mengungkapkan kebahagiaan bahwa diri saya diterima. Karena itu saya merasa punya tanggungjawab menjaga rasa berarti dalam hidupnya; dengan bertahan hidup untuk tidak mati. Saya juga jadi ingat ada pihak lain yang perlu saya masukkan dalam circle hidup saya; keluarga. Jadi, menghilangkan nyawa untuk memutus episode tidak membunuh luka, hanya akan memindahkan luka ke hati mereka; teman dan keluarga.
Hari ini, saya punya pelajaran baru, bahwa diterima tidak menjamin saya dimengerti oleh mereka. Kalimat "Gw nerima kondisi lo kok" hanyalah sebuah penghiburan yang ada masa berlakunya. Bisa kadaluarsa. Sebagai teman mungkin mereka nerima, tapi tidak berarti untuk mengerti. Menerima hanyalah pengakuan masih mau berteman. Bukan dijamin sebuah sikap yang mengerti kondisi saya. Karena penerimaan itu pada akhirnya akan berbenturan dengan sifat alamiah manusia yang juga punya perasaan; bisa kesal bisa marah bisa nggak suka.
Episode: Diterima tidak menjamin dimengerti
Berawal dari niat baik teman yang ingin mengenalkan saya pada teman laki-lakinya. Singkat cerita kami bertemu bertiga. Kebetulan saya ada obrolan yang bisa dimengerti kita bertiga. Tapi emang, selama ngobrol, mata saya hampir selalu lihatnya ke temen saya, bukan ke temen laki-laki yang dikenalkan ke saya. Kemudian selesai ngobrol kita bertiga sempet diem dan saya main hape.
"Jangan main hape dong, ngobrol" colek teman saya.
Kenapa harus negor saya yang main hape? Bukannya harusnya mikir gimana caranya supaya saya gak main hape yha. Harapan saya adalah dia yang membangun obrolan sebagai penengah, sebagai pihak yang ngenalin. Dulu, waktu saya ngenalin dia ke temen saya, saya yang bangun obrolan untuk bisa dimengerti mereka berdua. Saya merasa wajib melakukan itu karena saya pihak yang ngenalin. Lalu sampe rumah muncul perasaan dalam hati bahwa tegoran itu mengintimidasi saya. Lebay yha. Yagitulah gangguan saya.. :(
Belum release rasa diintimidasi oleh tegoran siang itu. Sorenya dia ngoreksi saya. Yha mungkin niatnya cuma mau nyampein aja,
"Kamu tadi sepanjang ngobrol cuma liat ke mata aku. Padahal obrolannya nyambung juga buat bertiga. Kenapa cuma liat mata aku"
Udah bagus saya punya obrolan yang bisa nyambung buat bertiga. Yang padahal harusnya tugas temen saya. Tapi ketika saya tanya hal itu responnya,
"Kenapa harus aku yang jadi penengah, ngobrol sendiri kan kalian udah dewasa"
HAH?? Saya sempet beku dengernya. Sebuah pernyataan yang dingin sekaligus aneh. Tiga kalimat itulah yang melukai hati saya. Gak tau yha kenapa. Perasaan yang muncul sih rasa diintimidasi. Sampe suatu hari dia sebut nama temen laki-lakinya itu dalam pertanyaan, saya jadi sensitif. Ada luka yang perih. Ada marah yang meradang. Ada rasa tidak nyaman yang menyeruak. Ada rasa tidak terima yang tidak terucap. Full of emotion pokonya.
"Jangan main hape dong, ngobrol" colek teman saya.
Kenapa harus negor saya yang main hape? Bukannya harusnya mikir gimana caranya supaya saya gak main hape yha. Harapan saya adalah dia yang membangun obrolan sebagai penengah, sebagai pihak yang ngenalin. Dulu, waktu saya ngenalin dia ke temen saya, saya yang bangun obrolan untuk bisa dimengerti mereka berdua. Saya merasa wajib melakukan itu karena saya pihak yang ngenalin. Lalu sampe rumah muncul perasaan dalam hati bahwa tegoran itu mengintimidasi saya. Lebay yha. Yagitulah gangguan saya.. :(
Belum release rasa diintimidasi oleh tegoran siang itu. Sorenya dia ngoreksi saya. Yha mungkin niatnya cuma mau nyampein aja,
"Kamu tadi sepanjang ngobrol cuma liat ke mata aku. Padahal obrolannya nyambung juga buat bertiga. Kenapa cuma liat mata aku"
Udah bagus saya punya obrolan yang bisa nyambung buat bertiga. Yang padahal harusnya tugas temen saya. Tapi ketika saya tanya hal itu responnya,
"Kenapa harus aku yang jadi penengah, ngobrol sendiri kan kalian udah dewasa"
HAH?? Saya sempet beku dengernya. Sebuah pernyataan yang dingin sekaligus aneh. Tiga kalimat itulah yang melukai hati saya. Gak tau yha kenapa. Perasaan yang muncul sih rasa diintimidasi. Sampe suatu hari dia sebut nama temen laki-lakinya itu dalam pertanyaan, saya jadi sensitif. Ada luka yang perih. Ada marah yang meradang. Ada rasa tidak nyaman yang menyeruak. Ada rasa tidak terima yang tidak terucap. Full of emotion pokonya.
Saya hanya berniat menunjukkan ketidaknyamanan saya;
"Aku gak suka pertanyaan kamu, kenapa gak (contoh pertanyaan) aku bisa jawab (contoh jawaban), kenapa gak (contoh pertanyaan 2) kalo gitu aku bisa jawab gini"
Saya pingin nunjukkin perasaan saya tapi bingung ngejabarinnya, makanya pake contoh pertanyaan yang menurut saya lebih nyaman buat saya. Tapi respon yang saya dapatkan,
"Kamu gak bisa expect semua sesuai mau/kesukaan kamu. Kalo kamu gasuka sama pertanyaan aku, yaudah itu urusan kamu. Gak mungkin aku ganti pertanyaan cuma supaya bikin kamu seneng."
Betul. Tidak ada yang salah dari kalimat temen saya. Tapi bagi saya yang telah melewatkan peristiwa sulitnya terbuka soal kondisi emosional saya, pergulatan batin berminggu-minggu dengan sakit mental yang luar biasa hingga akhirnya saya terbuka dan respon dia menerima saya, gong kalimat temen saya itu membuyarkan semua peristiwa-peristiwa berarti yang telah mengkristal dengan baik dalam hati saya. Respon itu kayak bukan temen yang pernah menyebut dirinya nerima kondisi saya.
Kalo kamu gasuka sama pertanyaan aku, yaudah itu urusan kamu.
Urusan kamu.
Alias urusan saya.
Ketidaknyamanan yang dulu pernah disepakati bersama untuk bisa saya ungkapkan langsung, sepertinya tidak berlaku (lagi). Atau sudah habis masa kadaluarsanya. Pelajaran baru bagi saya, bahwa menerima hanyalah pengakuan masih mau berteman. Bukan jaminan kondisi saya akan dimengerti. Karena menerima pada akhirnya akan berbenturan pada sifat alamiah manusia yang juga punya perasaan; kesal, marah, tidak suka.
Betul. Tidak ada yang salah dari kalimat temen saya. Tapi bagi saya yang telah melewatkan peristiwa sulitnya terbuka soal kondisi emosional saya, pergulatan batin berminggu-minggu dengan sakit mental yang luar biasa hingga akhirnya saya terbuka dan respon dia menerima saya, gong kalimat temen saya itu membuyarkan semua peristiwa-peristiwa berarti yang telah mengkristal dengan baik dalam hati saya. Respon itu kayak bukan temen yang pernah menyebut dirinya nerima kondisi saya.
Kalo kamu gasuka sama pertanyaan aku, yaudah itu urusan kamu.
Urusan kamu.
Alias urusan saya.
Ketidaknyamanan yang dulu pernah disepakati bersama untuk bisa saya ungkapkan langsung, sepertinya tidak berlaku (lagi). Atau sudah habis masa kadaluarsanya. Pelajaran baru bagi saya, bahwa menerima hanyalah pengakuan masih mau berteman. Bukan jaminan kondisi saya akan dimengerti. Karena menerima pada akhirnya akan berbenturan pada sifat alamiah manusia yang juga punya perasaan; kesal, marah, tidak suka.

No comments:
Post a Comment