Wednesday, November 2, 2016

Dari Pulau di Seberang Ibukota, Aku Memaknai Syukur


Jam tangan saya menunjukkan pukul dua belas siang lewat beberapa menit. Dua teman saya shalat Dzuhur di mushola, sementara saya menunggu mereka di warung karena saya sedang berhalangan. Sebetulnya saya bisa saja menunggu mereka di mushola sambil rebahan. Tapi karena saya butuh listrik untuk mengisi daya baterai hape saya, makanya saya ke warung.

Cuaca hari ini panas sekali, padahal sudah berhari-hari kemarin hujan terus. Lebih terasa panas karena sekarang kami sedang di Pulau Seribu. Yeay pantai! Tapi justru bagus kalau panas, kalau hujan malah memble nanti liburan sehari ini hehehe ngga bisa dapet foto kece toh?

Sambil menunggu pesanan indomie goreng saya matang, kayaknya minum dingin seger banget berhubung entah sudah berapa lembar tisu saya pakai untuk mengelap keringat di wajah saya. Lumayan ada teh botol dingin. Saya lalu duduk di dekat colokan listrik, mencolokkan charger hape saya tapi tidak ada respon aliran listrik. Sebelumnya saya sempat mencoba colokan listrik di mushola, karena tidak ada aliran listriknya makanya saya pindah ke warung. Jangan-jangan di sini ngga ada listrik kaya di pedalaman Badui?

"Bu, colokannya ngga bisa ya?"
"Ngga ada listrik di sini kalau siang, adanya cuma malam." jawab si ibu yang lagi meninabobokan cucunya di bangku sebelahnya.

Mereka duduk di seberang meja saya. Meja sebelah mereka ada si kakek yang sedang makan siang dengan lauk ikan laut. Kok saya tau padahal jauh duduknya? Ya gimana ngga tau, setiap ada tetangga mereka yang lewat si kakek pamer ikan yang dia makan. Mungkin hasil tangkapannya sendiri. Entahlah pokoknya dia terlihat bangga sekali setiap menunjukkan ikan yang sedang dia makan.

Indomie goreng saya datang. Diantar si bapak yang tadi melayani teh botol dingin. Mungkin bapak ini anak kakek nenek di depan saya. Mungkin. Atau bapak ini menantu mereka. Entahlah. Saya masih gigih tanya soal aliran listrik.

"Pak ngga bisa charge hape ya?"
"Ngga bisa mba, adanya malam aja" jawab si bapak sambil tersenyum. Senyum kasian kepada saya.
"Gitu ya pak.. Makasi ya pak."

Saya kecewa sekali karena ngga bisa charge hape. Baterai saya tinggal 10% mana cukup buat foto-foto nanti di pulau selanjutnya. Ini baru sampai di pulau kedua, bahkan belum foto-foto. Nanti masih ada pulau ketiga. Aaaah.. Saya pasti cuma bisa merekam pemandangan indah di kepala melalui mata saya. Tapi kok saya egois ya, cuma mikirin foto bagus.

Orang-orang di pulau ini kalau siang ngga ada listrik? Mereka ngga bisa nonton tv siang-siang dong? Mereka ngga gerah gitu siang-siang panas gini? Iya.. Mereka kan bukan saya. Mana bisa saya begitu. Lalu saya malu sendiri, tadi sempat cuma kepikiran foto-foto. Bersyukur sekali tempat tinggal saya dijangkau listrik dua puluh empat jam nonstop. Bersyukur sekali, yaAllah terima kasih Engkau mengingatkan saya bahwa listrik juga nikmat dariMu.

Saya menikmati indomie goreng dengan kelapangan hati yang perlahan semakin meluas. Bahwa nanti dan di pulau ketiga ya ndak apa meskipun hape mati. Ndak apa ndak bisa foto-foto. Yang penting masih bisa lihat pemandangannya toh? Itu sudah nikmat. Bisa sampai di sini untuk liburan sehari juga itu sudah nikmat.

Kakek yang sedang makan pakai ikan laut tadi memanggil anaknya.

"Nyalain aja gensetnya biar mbaknya bisa ngecharge hape" kata si kakek tanpa memalingkan wajah dari piringnya.

Tak lama terdengar deru mesin genset dari seberang warung yang saya singgahi ini.

"Coba mbak, udah bisa buat ngecharge hape" kata kakek menoleh ke arah saya.

Lalu saya menancapkan charger hape ke colokan listrik di sebelah kanan saya. Layar hape saya menyala. Icon baterai di sudut kanan atas hape saya juga menandakan teraliri listrik. Rasanya kok saya terharu ya. Sampe pingin salim cium tangan ke si kakek. Ini pasti karena Allah mendengar syukur saya. Ia memberi saya lebih ketika bahkan saya sudah ikhlas merelakan momen foto-foto.

Pingin salim ke si kakek tapi kan beliau lagi makan ikan ya, pasti tangannya bau ikan. Yaudah ngga usah salim. Doanya aja buat si kakek. Yang makan di warung ini cuma ada saya. Sebelum saya datang ada beberapa laki-laki sedang minum es kelapa. Tapi kemudian mereka pergi ngga lama saya datang.

Berkahi kakek itu yaAllah, berkahi juga warung ini yang sudah memberikan bonus kehidupan untuk hape saya. Saya tau yang tadi itu karena kuasaMu. Dengar juga doaku ini yaAllah.

Ngga sampai setengah jam ada mbak-mbak menghampiri saya.

"Mbak colokannya yang ini (nunjuk colokan di bawah charger saya) bisa ngga ya?"
"Bisa kok mbak." saya mengangguk mantap.
"Oh iya bisa"
"Sebelah sana juga semuanya bisa mbak" saya menunjuk terminal colokan listrik di meja yang tadi kakek duduki.
"Oh iya ada banyak" mbak itu menoleh dengan mata berbinar.

Tidak lama rombongan mbak-mbak itu datang meramaikan warung. Dua deretan meja di depan saya penuh oleh rombongan mbak itu. Terminal colokan yang tadi saya tunjukkan ke mbaknya langsung penuh dicoloki charger hape. Ada dua colokan kosong di sebelah saya. Satu diisi oleh mas-mas paling ujung kiri deretan meja saya, lalu satu lagi diisi mbak-mbak yang baru datang bersama pacarnya. Mereka duduk di serong kanan meja saya.

Saya melempar pandangan ke sekeliling warung sambil senyum-senyum sendiri. Ramai sekali. Sampai si ibu, bapak, kakek dan nenek sibuk mondar-mandir melayani pembeli. Si cucu sampai tidak jadi tidur. Ia duduk di dalam warung sambil memperhatikan ibunya menyiapkan es capucino untuk laki-laki di meja sebelah saya.

Bersyukurlah, maka akan kuberikan nikmat lebih untukmu. Begitu janji Tuhan saya. Ayat cinta itu ada di QS 14:7 dalam Alquran.


No comments:

Post a Comment