Hari
itu kita bertemu. Dengan cerita berbeda bahwa kita bukan lagi yang dulu. Yang
saling mencintai dan menertawai hal lucu. Pertemuan itu, hanya karena kamu
penasaran seperti apa penampilan dan rupaku setelah berkerudung. Ya, pintamu
bertemu bukan lagi karena rindu. Tapi aku mengiyakan pertemuan itu. Bukan saja
karena hanya aku yang rindu, tapi karena aku masih senang melihat kamu.
Padaku kamu bercerita, bahwa kamu ingin sekali punya polo shirt warna lain
selain yang kamu pakai saat itu. Maka setelah kita makan, aku menawarkan untuk
melihat-lihat deretan baju di department store. Kamu banyak meminta masukanku
akan warna apa yang bagus. Kamu bilang, kamu ingin sekali warna seperti salah satu
kemeja yang kupunya. Dalam hati diam-diam aku merasa senang bukan main dan
merasa kalau warna yang kamu mau itu karena ingin punya baju yang sewarna
dengan milikku. Mungkin suatu hari bisa dipakai bersama seperti pasangan pada
umumnya. Tapi aku lupa, kita bukan lagi pasangan. Mungkin kamu hanya suka warna
itu. Bukan karena ingin samaan denganku. Senyum getir kutahan saat aku
menyadari hal itu.
Warna yang kamu inginkan itu tidak ada. Lalu dari sekian warna yang aku
pilihkan, kamu mengiyakan dua warna; merah dan coklat tua. Aku duduk di sofa,
di sudut dekat deretan polo shirt yang tergantung sementara kamu mencobanya di
kamar pas. Tidak sampai lima menit kamu keluar dengan polo shirt merah
pilihanku. Pas sekali di badan kamu yang lebih ramping dari beberapa waktu
silam. Ditambah senyum sumringahmu, polo shirt merah itu membuatmu lebih
tampan. Ah.. Saat itu rasanya aku ingin lari ke pelukanmu dan memendamkan
wajahku di dadamu. Pasti rasanya nyaman sekali. Kuat-kuat aku menahan keinginan
itu.
"Bagus nggak sih?"
Aku tersenyum dan mengangguk mantap.
"Beneran bagus?" tanyamu tidak yakin
"Bagus. Badan kamu sekarang bagus, jadi pake apa aja
bagus."
Kamu kembali mengembangkan senyum mendengar jawabanku lalu
kembali masuk ke kamar pas. Mungkin menggantinya dengan pilihan kedua, coklat
tua. Sementara kamu di dalam, aku menahan genangan di mataku. Kelak, warna
pilihanku itu akan kamu pakai bukan lagi untuk pergi bersamaku.
Kamu keluar dengan polo shirt yang kamu pakai dari rumah.
Kupikir tidak jadi dengan pilihan coklat tua.
"Loh yang coklat tua ngga dicoba juga?"
"Ngga usah, kan ukurannya sama"
"Oh, iyasih.."
"Makasi ya kamu udah bantuin milih,,"
Aku hanya tersenyum saat kamu berterima kasih. Ya, aku hanya
seorang yang membantumu memilih. Entah kelak pergi dengan siapa yang membuatmu
semangat memakainya. Pasti bukan aku.
No comments:
Post a Comment