Thursday, July 10, 2014

Polo Shirt Merah


Hari itu kita bertemu. Dengan cerita berbeda bahwa kita bukan lagi yang dulu. Yang saling mencintai dan menertawai hal lucu. Pertemuan itu, hanya karena kamu penasaran seperti apa penampilan dan rupaku setelah berkerudung. Ya, pintamu bertemu bukan lagi karena rindu. Tapi aku mengiyakan pertemuan itu. Bukan saja karena hanya aku yang rindu, tapi karena aku masih senang melihat kamu.


Padaku kamu bercerita, bahwa kamu ingin sekali punya polo shirt warna lain selain yang kamu pakai saat itu. Maka setelah kita makan, aku menawarkan untuk melihat-lihat deretan baju di department store. Kamu banyak meminta masukanku akan warna apa yang bagus. Kamu bilang, kamu ingin sekali warna seperti salah satu kemeja yang kupunya. Dalam hati diam-diam aku merasa senang bukan main dan merasa kalau warna yang kamu mau itu karena ingin punya baju yang sewarna dengan milikku. Mungkin suatu hari bisa dipakai bersama seperti pasangan pada umumnya. Tapi aku lupa, kita bukan lagi pasangan. Mungkin kamu hanya suka warna itu. Bukan karena ingin samaan denganku. Senyum getir kutahan saat aku menyadari hal itu.


Warna yang kamu inginkan itu tidak ada. Lalu dari sekian warna yang aku pilihkan, kamu mengiyakan dua warna; merah dan coklat tua. Aku duduk di sofa, di sudut dekat deretan polo shirt yang tergantung sementara kamu mencobanya di kamar pas. Tidak sampai lima menit kamu keluar dengan polo shirt merah pilihanku. Pas sekali di badan kamu yang lebih ramping dari beberapa waktu silam. Ditambah senyum sumringahmu, polo shirt merah itu membuatmu lebih tampan. Ah.. Saat itu rasanya aku ingin lari ke pelukanmu dan memendamkan wajahku di dadamu. Pasti rasanya nyaman sekali. Kuat-kuat aku menahan keinginan itu.

"Bagus nggak sih?"
 Aku tersenyum dan mengangguk mantap.
"Beneran bagus?" tanyamu tidak yakin
"Bagus. Badan kamu sekarang bagus, jadi pake apa aja bagus."

Kamu kembali mengembangkan senyum mendengar jawabanku lalu kembali masuk ke kamar pas. Mungkin menggantinya dengan pilihan kedua, coklat tua. Sementara kamu di dalam, aku menahan genangan di mataku. Kelak, warna pilihanku itu akan kamu pakai bukan lagi untuk pergi bersamaku.

Kamu keluar dengan polo shirt yang kamu pakai dari rumah. Kupikir tidak jadi dengan pilihan coklat tua.

"Loh yang coklat tua ngga dicoba juga?"
"Ngga usah, kan ukurannya sama"
"Oh, iyasih.."
"Makasi ya kamu udah bantuin milih,,"

Aku hanya tersenyum saat kamu berterima kasih. Ya, aku hanya seorang yang membantumu memilih. Entah kelak pergi dengan siapa yang membuatmu semangat memakainya. Pasti bukan aku.


No comments:

Post a Comment