Hati saya tak ubahnya hunian tanpa furniture; hanya ruang kosong dan molekul-molekul debu di udara. Hati saya pernah penuh dengan kamu, sampai saya sesak dan sulit bernafas. Tapi kepergian kamu jg tidak membuat saya bernafas lega. Entah kenapa. Yang terasa hanya tarikan nafas yang sesekali berat. Setidaknya saya masih bisa bernafas. Kepergianmu tidak mempengaruhi semesta. Saya harus syukuri itu. Seperti kamu, aku juga pernah ingin jadi sisi yang meninggalkan. Tapi aku hanya tak ingin melepaskanmu terlalu mudah. Aku hanya tak rela meninggalkan semua menjadi kenangan. Juga tak ingin merasakan pahitnya kehilangan. Kemudian ketakutan itu justru mendekat dan mendekapku. Meski kini tidak ada lagi 'kita', yang kutau matahari akan tetap setia esok pagi menyapa. Meski awan bergumul menutupinya. Secepat malam menggantikan senja, secepat itu aku ingin luka ini tak lagi kurasa. Tak ada lagi pinta, kecuali dihilangkan rasa sakitnya. Karena tak mungkin aku memohon lupa. Kenangan itu akan tetap ada. Aku hanya tak ingin berpura-pura. Buat apa? Memori akan terus menerorku tanpa jeda. Hanya butuh satu kata, rela.
No comments:
Post a Comment