Sungguh. Ada sesak di dada menerima selembar kartu berisi
tanggal pernikahanmu. Kutatap matamu lekat-lekat. Begitupun matamu padaku.
Entah ada kalimat apa di sana aku tak ingin tahu. Yang kutahu, aku harus sekuat
tenaga menahan panas di bola mataku. Jangan sampai bulir air itu menggenang,
apalagi keluar dari kelopak mataku.
Jangan.
Jangan sampai.
Aku seharusnya mendukungmu. Mendukung
kebahagiaanmu. Kebahagiaan yang kau pilih lebih dulu sebelum kembali bertemu
aku.
Tidak ada yang terlambat menurut
Tuhan. Aku denganmu memang tidak ada dalam takdirNya. Bukan karena kita
terlambat mengakui perasaan.
Entah apa yang kau rasakan, kudengar
jelas jantungmu berdegup kencang saat lengan besarmu menenggelamkan wajahku di
dadamu. Kau memelukku. Sangat erat. Degupanmu itu, entah karena melihatku yang
menahan sesak. Atau kau memang juga terasa sesak. Yang terakhir itu aku tak
yakin, karena bahkan seluruh hatimu bukan untukku. Entahlah aku ada di sudut
sebelah mana. Entahlah cerita denganku kau simpan di ruang yang mana. Untuk apa
aku tahu. Tidak ada gunanya. Entah di ruang bahagia ataupun luka, tetap saja
yang terasa di hatiku adalah goresan luka.
Bahkan di hatiku, rasa padamu sampai
saat ini masih saja bias. Entah sekedar suka atau sudah terlanjur cinta. Yang
pasti keduanya harus berakhir sama; kau dan aku tak bisa jadi kita.
Aku tak pernah paham atmosfir apa
yang terasa tiapkali di dekatmu. Seperti sedang dipayungi saat awan tengah
kelabu. Rasanya tenang. Karena bahkan bila hujan turun ada kau yang
memayungiku.
Tapi gelegar petir menakutkanku.
Angin kencang membuat hujan membasahiku. Lalu apa gunanya payungmu? Hanya
ketenangan semu.
Pergilah. Pernikahan adalah
seindah-indahnya akhir cerita. Kau sudah lebih dulu mengajak dia. Kau sudah
lebih dulu menawarkan dongeng indah padanya. Dan itu adalah
seromantis-romantisnya ungkapan cinta. Apapun yang pernah kau lakukan padaku,
semanis apapun lakumu padaku tidak akan bisa mengalahkan keromantisan ajakan
nikahmu padanya. Pergilah.
No comments:
Post a Comment